Kembali IKM meminta kepada pemprov. NTB untuk mengembalikan marwah NTB Mall dan Mengganti Direktur NTB Mall

Buser Bhayangkara74

Mataram NTB,
NTB Mall adalah wadah dari pemasaran produk -produk IKM dan UMKM yang ada di NTB. Program unggulan Pemprov NTB ini menjadi harapan puluhan ribu pelaku UMKM yang memiliki produk unggulan yang dapat dipasarkan dan di perkenalkan lewat pemasaran NTB Mall. Jika ini berhasil maka produk UMKM lah yang akan membantu memberikan citra positif dan mengharumkan nama baik Provinsi Nusa Tenggara Barat.

NTB Mall, produk IKM dan UMKM tidak merata, ” Ganti Sajalah Direkturnya”

Endah Yuli Astuti, SE pemilik IKM Merinda Collection, kuliner rumah rawon dan Ketua PERSAMI ( Perhimpunan Saudagar Muslimah Indonesia) juga Ketua FKPPI ( Forum Komunikasi Putra putri TNI Polri angkat bicara,
Sesuai namanya NTB Mall jika dalam pelaksanaan pengelolaan nya tidak profesional dan tidak bagus, saya mewakili ribuan IKM dan UMKM di NTB ya..ganti sajalah dengan yang baru. Dinas harus berani dan cepat bertindak, jangan terkesan lemah dan kalah dengan pengurus NTB Mall, yang di sinyalir tebang pilih karena memiliki komunitas UMKM sendiri dan ini terbukti produk-produk komunitas mereka sajalah yang banyak dipasarkan. Produk UMKM yang lain di nomor dua kan. Ini kan tidak baik dan tidak profesional. Nah…setelah kasus tebang pilih produk UMKM ini terangkat di media masa baru semua UMKM di telephon, di hubungi dan di order produknya, ini terbaca kelemahannya karena pengurus tidak profesional, terangnya.

Lanjutnya,
Dibentuknya UPTD BP3UD ( Unit Pelaksana Tugas Dinas, Balai Promosi dan Pemasaran Produk Unggulan Daerah ) Dinas Perdagangan Provinsi NTB seharusnya berfungsi untuk mengelola secara penuh tidak melibatkan orang ketiga untuk mengelola. Biar adil tidak ada tebang pilih terhadap IKM dan UMKM seperti yang terjadi sekarang ini.

Saya pelaku IKM yang sejak NTB Mall berdiri sudah diajak bergabung untuk memasukkan produk tenun tradisional saya.
Saya heran sekali ketika produk saya yang sudah masuk di NTB Mall sudah berjalan malah di hentikan, dengan alasan bergantian dengan UKM yang lain. Ironisnya hingga saat ini malah produk saya tidak di masukkan sampai dua tahun, malah saya tidak pernah di hubungi lagi. Jika itu bergantian kan pasti ketemu lagi dengan saya karena rotasi nya terus berjalan. Tapi kenyataan nya tidak pernah terjadi, ungkapnya menyesalkan.

Kejadian seperti ini sangat mengecewakan pasti lah, karena saya kan juga pelaku IKM yang kepingin di perlakukan sama. Saya juga berfikir kejadian yang menimpa diri saya ini juga banyak menimpa dari teman-teman IKM yang lain, dan terbukti UMKM Banyak yang mengeluh ke saya tentang perlakuan pengelola NTB Mall sekarang ini.

Harusnya NTB Mall memberikan perlakuan yang sama kepada IKM dan UMKN yang pernah di bina, bukan malah di lupakan.
Untungnya saya tidak terlalu mengharapkan pemasaran di NTB Mall karena pemasaran saya sudah jalan di luar NTB Mall, tapi untuk teman teman IKM dan UMKM yang mengharapkan pemasarannya di NTB Mall ya kasihan.

Solusi Kasus ini Seharusnya UMKM dan IKM di kumpulkan oleh Dinas Perdagangan Provinsi NTB meski tidak semua, kalau semua UMKM dan IKM yang jumlahnya hingga puluhan ribu itu tidak mungkin. Maka dari itu bisa ditunjuk perwakilan dari masing-masing wilayah untuk memberikan suaranya saat pertemuan bersama dalam memberikan masukan yang terbaik, tuturnya.

Seperti kasus NTB Mall sekarang yang saya ikuti, kasus tebang pilih produk oleh pucuk pimpinan pengelola NTB Mall yang sekarang justru membuat nilai negatif serta menurunnya kepercayaan publik terhadap NTB Mall. Lebih baik di rombak saja, kan kewenangan Dinas Perdagangan Provinsi yang berwenang. Jangan berlarut larut. Lebih cepat lebih baik, jelasnya.
NTB Mall adalah milik masyarakat bukan milik segelintir orang yang punya kepentingan atau komunitas tertentu, ini kan program Pemprov. Jadi ya milik masyarakat NTB.
Kalau tidak difungsikan untuk seluruh pelaku IKM dan UMKM di bumi NTB yang kita cintai ini ya lebih bagus diganti saja jangan memakai nama NTB Mall tapi dengan nama yg lain yang mewakili satu komunitas saja . Tutupnya.

Fajar – NTB